Ulang Tahun Di Meja Konseling

 



Ulang Tahun Di Meja Konseling

Pada suatu hari, ketika usiaku lima, Mama pernah membuat cake bertingkat untuk merayakan ulang tahunku. Ada meses berwarna cokelat yang ditabur di atasnya. Cake ulang tahunku ada dua, yang bertingkat dihias dengan krim warna-warni, dan yang satunya lagi ditaburi meses cokelat. Gaun ulang tahunku juga dijahit oleh Mama dan Nenekku. Berwarna putih, dengan lengan tali berbentuk pita, dan terusan panjang sampai menyapu lantai. Teman-temanku datang dan guru-guruku di sekolah juga datang. Mereka terkagum-kagum dengan gaun putihku yang cantik, juga cake bertingkatku yang tak kalah indah. Semua menyanyikan Selamat Ulang Tahun untukku, lalu mereka menerima bingkisan untuk dibawa pulang. Tidak lupa cake bermeses cokelat dipotong dan dibagi-bagikan--yang kemudian hal ini membuatku merajuk sepanjang siang. 

Namun, aku lekas lupa kejadian itu, sebab terlalu bahagia membuka kado yang diberikan orang-orang. Aku kembali tersenyum setelah membuka kado satu per satu. Isinya macam-macam, tetapi yang paling banyak adalah pita rambut.

Kupikir, setelah perayaan itu, benih pengharapan mulai tumbuh subur di hatiku. Aku mulai belajar bahwa ulang tahun adalah hal yang penting dan harus dirayakan. Aku mulai merasa bahwa akan selalu dirayakan oleh orang-orang yang kusayangi.

Sampai di tahun-tahun kemudian, tidak pernah ada lagi ucapan selamat ulang tahun yang datang kepadaku. Tidak ada lagi pelukan dari Mama atau Bapak. Tidak ada lagi cake dengan krim warna-warni yang dibuatkan. Tidak ada lagi nyanyian dan kado-kado yang berdatangan. 

Sejak hari itu, dua puluh dua September-ku selalu menjadi hari paling sepi--seolah setelah berumur lima tahun, aku dianggap sudah mati.

Di masa-masa sekolah, aku selalu hadir dalam setiap perayaan ulang tahun teman-temanku. Aku mengingat ulang tahun mereka dengan baik, bahkan berinisiatif memberikan kejutan--dengan harapan bahwa aku juga akan diingat. 

Tahun-tahun berlalu, nyatanya tidak ada yang memberikan kejutan padaku. Aku mulai mundur pelan-pelan, tidak lagi ada di barisan terdepan untuk merayakan orang-orang. Aku mulai membeli cake kecil dan sebuah lilin, menyalakannya diam-diam di jam dua belas malam, membuat permohonan, dan meniup lilinnya sendiri. Meski aku merayakan ulang tahunku sendiri, tetapi mengapa rasanya tetap sedih dan kosong? Mengapa aku masih ingin dirayakan dan diusahakan sebagaimana yang kulakukan kepada orang-orang?

Lalu, di suatu pagi, tanggal dua puluh dua September di tahun 2018, aku terbangun dengan perasaan kosong dan melupakan hari. Tidak ada lagi alarm pengingat ulang tahun, tidak ada lagi cake kecil yang kubeli untuk diriku sendiri. Bagiku, ulang tahun tidak pernah menjadi hari yang penting atau istimewa atau megah. Aku berhenti berharap akan datang sebuah kejutan, dan aku mulai melupakan ulang tahun semua orang. Aku tidak pernah bertanya lagi kepada siapapun perihal kapan ulang tahunnya? Sebab bagiku tidak penting. Hari ulang tahun adalah hari biasa seperti hari-hari lainnya; tidak perlu dirayakan, tidak perlu dibuat meriah.

Dan sejak hari itu, selalu ada perasaan aneh di dalam diriku jika tiba-tiba aku diberikan kejutan--bahkan oleh teman seruangan yang memang sudah biasa merayakan ulang tahun semua orang di ruangan kerjaku. Aku merasa tidak suka, dan tidak mau dirayakan. Entah kenapa.

Namun, tahun lalu, ada banyak sekali kiriman kue dari orang-orang, bahkan dari seseorang di Papua. Tahun lalu, ketika kupikir segalanya sedang berat, ketika aku sedang melalui fase yang tidak mudah, seketika ada banyak sekali orang yang merayakanku. Untuk alasan yang juga tidak kutahu, tahun lalu aku merasa senang menerima kiriman-kiriman itu. Barangkali sebab tidak terasa meriah, kiriman-kiriman itu datang dengan cara sederhana dengan sebuah kartu ucapan yang menghangatkan hati. 

Apakah karena aku menua, atau karena hari-hari itu berat sehingga aku mudah merasa tersentuh? Aku menyukai kiriman-kiriman itu.

Apakah karena aku sudah berhenti berharap sejak lama, atau karena semua kiriman itu terasa seperti pengharapan yang diberikan Tuhan untuk menguatkanku dari badai tahun lalu? Aku menyukai kiriman-kiriman itu.

Other posts click here

Hari ini, di usiaku yang ke tiga puluh dua, hari ulang tahun kembali menjadi sepi. Tapi tidak apa-apa, aku sudah terbiasa. Kiriman tidak lagi sebanyak tahun lalu. Kupikir, dua puluh dua September tahun ini akan menjadi awal yang baru--dan menjadi tahun kedua merayakan September hanya berdua bersama bocah lima tahun itu. Namun, ternyata di umur yang sekarang, aku tidak butuh cake dan perayaan. Sejak lama aku terbiasa berteman dengan kesedihan. Suaraku telah biasa meramaikan perayaan orang-orang, meski tidak satu pun merayakanku kembali. Cake dan perayaan hanya ada sekali dalam sepanjang umurku, ketika aku berusia lima tahun. Selebihnya, aku hanya bertemankan aku, hingga hari ulang tahun bukan lagi yang kunantikan, atau kuanggap istimewa.

Aku telah melewati banyak hal menyedihkan dan kesepian paling sepi di September-ku sebelum-sebelumnya. Namun ternyata, tidak ada yang lebih menyedihkan selain relapse di hari ulang tahun sendiri. Tidak ada yang lebih sepi, selain mendengar suara-suara di dalam kepala yang menyuruh mati.

Di usia ketiga puluh dua, aku butuh pertolongan. 

Di hari yang kata orang-orang hari bahagia ini, aku butuh psikolog. Aku butuh terapis dan meja konseling.

Post a Comment

0 Comments