Merangkai Aku



Merangkai Aku


Bagaimana ... jika di kehidupan ini, kita berkali-kali dihancurkan?

Bagaimana ... jika berulang kali dikecewakan?

Bagaimana ... jika tidak hanya sekali dipatahkan?


Kita seringkali berkali-kali dihancurkan, lalu ditinggalkan begitu saja dalam kepingan-kepingan mozaik. Dibiarkan berantakan dan porak-poranda.

Dikecewakan berulang kali, tanpa mendengar kata maaf, atau bahkan menerima penjelasan. Kita dibiarkan tersesat dalam perasaan yang tidak kita inginkan. Dibiarkan merasa tidak dicintai, tidak diinginkan, tidak diharapkan. 

Bahkan jika dipatahkan, kita bukan lagi menjadi dua bagian. Tetapi tiga, bahkan empat, atau malah lebih. Tiap sendi kita dipatahkan. Jiwa kita yang rapuh dan menggenggam harapan sekecil itu, diremukkan. Angan kita yang berserakan, diterbangkan jauh. 

Kita yang hancur, selalu mengharapkan pertolongan dari yang telah menghancurkan. Kita menunggu kata maaf yang tidak pernah benar-benar mereka maknai. Kita menunggu disembuhkan oleh mereka yang bahkan tidak sadar telah melukai. 

Lalu, apa jadinya kita selanjutnya?

Yang menghancurkan kita tidak akan merangkai kita lagi. Sekali dihancurkan, kita tidak akan pernah utuh lagi. 

Yang mengecewakan tidak akan menyembuhkan kita. Sekali pun luka tidak lagi berdarah, bukan berarti nyeri dan bekasnya akan hilang, bukan?

Yang mematahkan tidak akan menyatukan kita. Tidak akan ada orang lain yang mau membuang waktunya untuk menjahit setiap sendi-sendi kita, menyatukan satu per satu bagian diri kita agar kita tampak seperti manusia utuh.

Tidak ada yang bisa memperbaiki diri kita, selain kita sendiri. 

Aku sudah siap menjadi Frankenstein. Akan kurangkai aku, tidak peduli seberapa hancurnya aku kemudian. Akan kujahit tiap luka, tiap sendi yang tercerai, atau jiwa yang berai. Aku akan belajar merangkai diriku lagi, sebagaimana aku seharusnya. 

Jika nanti hujan lagi, akan kurekatkan payung di atas kepalaku.

Jika nanti badai lagi, kupahat pijakanku atas tak luluh lantak.

Jika harus jungkir balik, aku siap memindahkan kaki ke kepala, atau tangan ke kaki.

Tidak apa-apa. Setiap pertemuan akan meninggalkan sesuatu untuk kita, dan setiap kepergian akan meninggalkan pertanyaan-pertanyaan besar. Akan ada yang diambil dari kita setiap harinya.

Tidak mengapa. Yang penting, aku sudah tahu, bagaimana caranya merangkai aku, agar kembali menjadi utuh.



PS: labels Merangkai Aku akan berisi perjalananku (yang berusaha) menyembuhkan luka dan menemukan diriku yang lama. Barangkali akan berisi banyak duka, atau bahkan kisah yang tidak pernah aku ungkap. Aku tidak sedang mengungkit luka lama, atau menjelekkan sebuah nama. Aku sedang memvalidasi semua perasaan yang dulu selalu kutolak. Aku sedang berusaha menemukan akar dari trauma dan luka yang tidak kunjung sembuh. Sebab, aku ingin menjadi seorang ibu yang baik, untuk seorang bocah empat tahun yang mengharapkan perlindungan dariku. 


Post a Comment

0 Comments