"Semua orang ada masanya, semua masa ada orangnya."
Begitulah kalimat yang sering kali kami ucapkan dulu--aku dan teman-teman relawan. Kupikir, dulu kalimat itu hanya untuk menyenangkan hati kami ketika orang-orang di sekitar kami telah berganti satu per satu. Beberapa menjadi akrab, lainnya jadi terpecah. Lagi-lagi kalimat itu keluar, untuk saling menguatkan kami di jalan kebaikan.
Namun kemudian, curhatan singkat yang kudengar hari ini, melemparkanku kembali ke tahun-tahun lalu, yang membuatku semakin memaknai kalimat singkat di atas.
Hari itu, hari ketika aku sibuk mempersiapkan pernikahanku, aku ditemani oleh seseorang yang sebelumnya bukanlah orang yang dekat denganku. Sebelumnya, aku menjadi yang paling erat dalam proses pernikahan sahabat karibku sejak SMP. Ketika tiba giliranku untuk menikah dua tahun kemudian, bukan dia yang menemaniku, melainkan orang lainnya lagi, yang secara ajaib, menjadi akrab denganku setelah pernikahan sahabat karibku itu.
Apakah aku marah dan kecewa sebab dia tidak menemaniku sebagaimana aku dulu? Tidak. Aku baik-baik saja. Karena saat itu, kupikir begitulah cara kerjanya. Sahabatku sudah memulai kehidupannya. Aku tahu bagaimana sibuknya ia belajar kehidupan barunya; menjadi ibu dan menjadi seorang istri. Dan yang kusadari di saat itu adalah, Allah telah menyiapkan orang lain yang akan menemaniku di hari-hari persiapan pernikahanku. Saat itu, aku tidak tahu kapan aku akan menikah, atau dengan siapa, tetapi Allah telah dekatkan aku kepada seseorang yang akan menjadi temanku melalui proses yang selalu kunanti-nantikan itu.
Di hari akad nikahku, seseorang ini bertanya kepadaku, "Kak, nanti kalau aku menikah, siapa ya yang bakal nemenin aku sibuk-sibuk gini? Masa Kakak?"
Saat itu, aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Aku, dengan tenang menjawab, "Bukan. Nanti ada orang baru lainnya yang nemenin kamu. Sama kayak Kakak, dulu Kakak nemenin Kak Mahya nyiapin pernikahannya. Semuanya, keliling ke sana-sini, ikut pusing, ikut galau. Tapi apa sekarang Kak Mahya yang nemenin Kakak? Enggak, kan? Malah jadi kamu yang nemenin proses Kakak. Padahal dulu kita nggak dekat, tapi tiba-tiba aja Allah dekatkan kita setelah acara nikahan Kak Mahya."
"Iya ya, Kak," ucapnya.
Kupikir, hari itu, aku hanya mengucap sembarang kalimat agar hatinya tenang, juga aku merasa lega. Kupikir kalimat itu hanya sebuah kalimat yang akan membuat kami berdua sama-sama tenang dan lega. Nyatanya, hari ini, aku menyadari betapa kuatnya kalimat yang kuucapkan dulu, betapa bermaknanya setiap kata yang pernah kuucapkan itu.
Hari ini, dia bercerita bahwa teman dekatnya tampak seperti menjauh. Aku menanyainya perihal kapan mereka mulai dekat, dan bagaimana semuanya tampak menjauh dari sudut pandangnya. Semua jawabannya kurekam baik di ingatan, kususun semua cerita berdasarkan urutan waktu. Lalu, sebuah pemikiran memenuhi kepalaku, yang takut sekali untuk kuutarakan.
Hingga dia bertanya, apa yang ada di kepalaku?
"Apa Allah kirim dia ke kamu pas Kakak akan pergi (menikah)? Terus sekarang dia-nya ditarik lagi sama Allah karena Allah tahu kakak udah ada untuk kamu lagi?"
Dia mengucapkan bahwa ia menangis lagi, sedangkan aku mengetikkan kalimat di atas dengan tangan gemetar. Seketika aku menyadari, betapa besarnya rasa cinta Allah kepada kami? Kepadaku yang bahkan baru menempuh jalan yang dikata orang-orang mengundang murkanya Allah?
Aku kembali mengingat-ingat setiap momen, setiap perjalanan yang kutempuh sejauh ini. Benarkah aku sendirian? Atau sebenarnya Allah selalu kirimkan orang-orang lain untuk menemaniku tanpa sadar? Benarkah aku ditinggalkan? Atau sebenarnya Allah sedang mengganti orang-orang di sekitarku dengan yang lebih baik dan lebih mengerti?


0 Comments