Rumi Space; Kafe Kecil Di Kota Kecil
Tanjungpinang bukanlah sebuah kota yang besar dan megah. Benar, kota ini merupakan ibukota Kepulauan Riau. Namun jangan ditanya, sepinya mirip-mirip kabupaten kecil. Apalagi tahun 2020 ketika pandemi Covid, Tanjungpinang sempurna jadi kota mati.
Enam tahun tinggal di kota kecil ini, ada banyak hal yang berubah. Kafe-kafe kekinian mulai menjamur, pilihan kuliner makin banyak dan beragam, dan satu hal yang paling aku sadari; harga makanan yang kian ramah di kantong. Sarapan seharga dua belas ribu, atau sepuluh ribu, sudah gampang ditemui. Bahkan untuk Nasi Dagang seharga enam ribu pun ada.
Namun, dari sekian banyak kafe-kafe kekinian yang bermunculan, ada salah satu kafe yang rasanya homey, dekat, dan cozy. Kafe ini bukan kafe besar. Beberapa orang bilang aku terus-terusan datang ke sana karena namanya sama dengan namaku; Rumi. Mungkin ada benarnya, tetapi sebenarnya Rumi Space punya banyak alasan yang membuatku selalu kembali ke sana.
Kecil, Tapi Homey
Sebagai introvert, ruangan yang luas dan ramai membuatku merasa semakin kecil dan sendiri. Terkadang tidak nyaman, karena terlalu banyak percakapan yang membaur di udara. Rumi Space menjadi anomali dari kafe kekinian yang buka di kota kecil ini. Ruangannya kecil, sebagian space dipindahkan ke halaman depannya. Jumlah mejanya bisa dihitung jari, bahkan ssebagian pengunjungnya bisa saling mengenali satu sama lain (karena saking seringnya datang, dan yang ditemui itu lagi, itu lagi).
Rumi Space bukan seperti kedai kopi Aceh yang menjamur di Medan. Yang tiap kali kalian memasuki ruangannya, semerbak kopi akan menjadi aroma paling akrab di indera penciuman. Namun, setiap kali kalian memasuki kafe ini, akan selalu ada yang menyapa kalian dengan akrab. Siapa yang tidak merasa 'dekat' ketika disapa dengan hangat?
Jadi, ya, ruangan kafe yang kecil ini menjadi hangat untuk aku pribadi, seperti pulang ke rumah sendiri.
Kecil, Tapi Penuh Kreasi
Rumi Space sendiri memiliki arti sudut estetik. Rumi diambil dari bahasa Jepang yang artinya estetik, begitu kata Kak Yohana--pemilik Rumi Space. Dekorasi dan desain Rumi Space, sampai ke sosial medianya pun, punya tone warna yang sama. Bukan warna kesukaanku, tapi termasuk warna yang selalu kupilih untuk desain sesuatu. Haha
Di kafe kecil ini, seringkali diadakan workshop. Macam-macam, sih. Mulai dari workshop membuat gelang, workshop perfumery, workshop flower bouquet, sampai workshop macrame. Pokoknya, ada aja gebrakan Kak Yohana. Hahaha
Di setiap workshop yang diadakan, pelanggan tetap Rumi Space ini sebagian besar selalu join. Makanya, tiap pelanggan pun saling hapal wajah satu sama lain. Ya karena ketemu di acara-acara yang diadakan di sini.
Agaknya Rumi Space selalu mendukung banyak kegiatan kreatif. Dan di hari-hari beratku kemarin, aku harus berterima kasih untuk workshop-workshop yang ditawarkan kafe ini.
Dari Customer, Jadi Cust-friend
Nampaknya, pemilik dan staf Rumi Space ini sudah di-setting untuk hapal semua pelanggannya. Hahaha
Pernah di satu waktu, aku bingung mau pesan apa. Dan Kakak2 yang baru bekerja di situ menyeletuk, "Vanilla Latte kayak kemarin, Kak?"
Kakak ini baru, dan baru sekali menerima pesananku, dan dia langsung inget :) Bagaimana aku tidak happy dengan hal kecil ini???
Dan, Kakak2 yang lainnya juga selalu hapal aku yang tidak suka manis dan suka kopi yang strong, "Kakak nggak suka manis, kan? Coffee Latte aja mau?"
Aku yang suka random ini tiba-tiba ingin ngopi, atau anakku yang suka tiba-tiba ngajak nongki di Rumi Space, dengan enteng bisa berkata, "Kak aku pengen ngopi tapi nggak tahu mau apa. Pilihin aja, ya."
Tentu kalimat di atas tidak akan mungkin aku ucapkan ketika mereka tidak tahu seleraku apa, dan aku tidak seakrab itu dengan mereka. Namun rasanya, 95% pelanggan Rumi Space akan setuju dengan statement-ku ini; bahwa Rumi Space memperlakukan pelanggannya seperti teman dekat mereka sendiri.
Bahkan pernah di satu waktu, Kak Yohana sedang nge-built menu baru. Menunya belum launching, tapi aku sudah dipamerin di DM. Tentu aku langsung coba, dong. Lumrahnya, di mana-mana, penjual meracuni pembeli. Namun saat itu, aku pernah ngide Coffee Latte-nya kutambahi Es Krim Espresso mereka. Dan surprisingly, rasanya enak! Jadilah aku meracuni Kak Yohana untuk mencoba hack menu ini dan membujuknya untuk menjual es krim espresso-nya sebagai add on menu.
Lagi-lagi, surprisingly, Kak Yohana setuju kalau Coffee Latte + Es Krim Espresso itu memang enak! Dan request-ku dikabulkan. Coffee shop mana yang pernah diracuni hack menu sama pelanggan?
Perasaan dekat seperti ini rasanya sangat jarang terjadi di tempat-tempat lain. Atau, bisa jadi aku dikenali oleh beberapa staf di sebuah kedai kopi, atau kafe kekinian. Namun ketika staf itu berhenti bekerja, aku kembali merasa asing dengan tempat itu. Sedangkan di Rumi Space, hal ini tidak terjadi. Semuanya saling tahu, mulai pemilik kafe hingga staf yang bekerja. Rumi Space tidak hanya menawarkan kopi dan makanan, mereka juga menawarkan hubungan dan keakraban. Kupikir, kita semua setuju bahwa dua hal terakhir ini bisa menjadi alasan orang merasa nyaman dan ingin kembali lagi dan lagi.
Si Coffee-picky Menemukan Rumahnya
Aku pribadi, agak picky terhadap kopi. Bukan karena aku si paling paham perkopian, tetapi ya memang tidak semua kopi cocok di lidahku. Ditambah lagi lidahku yang cukup sensitif membedakan beans kopi yang enak dan yang biasa saja.
Menu perkopi-susuan apalagi. Lebih sulit bagiku untuk menemukan yang cocok. Aku sensitif sama bau susu dan tidak suka bau susu, tetapi ingin minum kopi susu dan latte-lattean. How?
Di coffee shop A, aku bisa saja cocok dengan rasa kopinya, tetapi aku akan protes perihal rasanya yang terlalu manis dan bau susu.
Di coffee shop B, bisa jadi aku cocok dengan kadar manisnya, tetapi manis protes karena terlalu milky.
Di coffee shop C, bisa jadi aku cocok dengan bau susu yang sama, tetapi biji kopinya tidak enak di lidahku.
Atau bahkan, di coffee shop D, aku bisa protes perihal blendingan kopi dan susu dan sirup-nya yang tidak smooth.
Aku bisa protes banyak hal, tetapi aku tidak protes ketika mencoba Es Kupi Aren-nya Rumi Space. Itu adalah pertama kalinya aku ke sana, dan aku tidak protes apa-apa, selain kadar manisnya yang masih kurang pas (waktu itu aku pesan menu default, dan ini aku selalu lakukan di pemesan pertama untuk tahu custom menu selanjutnya). Aku juga mencoba menu V60 mereka saat itu, dan rasanya enak!
Kali kedua ke Rumi Space, aku request extra shot (dan extra shot mereka free!). Masih menu yang sama; Es Kupi Aren + extra shot. Dan, cocok! Beneran langsung cocok. Tidak ada keluhan bau susu, tidak ada keluhan beans kopi kurang ini itu, tidak ada keluhan terlalu manis dan lain-lainnya. Berangkat dari sini, di kunjungan berikut-berikutnya, aku berganti-ganti menu. Sejauh ini, aku tidak punya keluhan apapun, karena memang merasa cocok dengan kopi-kopi mereka.
Rasanya, mereka juga sudah hapal dengan kadar gula yang pas di lidahku. Haha
Jadi, ya, ketika aku pengin kopi dan nongki, biasanya aku akan kembali ke sini; opsi paling aman dan nyaman.
Jadi, ya, kalau teman-temanku berkali-kali mengira aku punya saham di Rumi Space, kuaminkan aja. Namun sekarang kalian semua harus tahu alasanku mengapa berkali-kali kembali ke kafe kecil ini. Beberapa rekan kerjaku mengatakan aku Brand Ambassador Rumi Space. Bodo amat, kutidak peduli. Yang penting pencarian panjangku sudah berakhir. Aku sudah menemukan coffee shop yang ramah di lidah dan hatiku.
Ps: Mereka jual pernak-pernik macam-macam yang diposting di IG @jajandirumi. Juga ada studio foto. Kalau kalian ke Tanjungpinang, kalian harus cobain ke sini!


0 Comments