[PART I] Terlilit Hutang

 



Terlilit hutang itu ... rasanya gimana, ya?

Pusing mikirin bayarnya gimana, pusing mikirin kapan lunasnya, pusing mikirin cari pinjaman lainnya untuk menutup pinjaman sebelumnya, pusing tidak punya pegangan karena harus melunasi hutang terlebih dahulu, dan pusing-pusing lainnya.

Adakah orang gila yang dengan sengaja menjerumuskan dirinya untuk berhutang?

Ada, aku.

Sebagai anak pertama, yang sejak dulu menanggung tanggungjawab yang bukan milikku, memiliki hutang untuk 'mencukupi' orang-orang di sekitarku rasanya sudah biasa dalam rentang enam tahun ini. Dan tahun ini, rasanya aku sudah mencukupkan diri untuk memikul tanggungjawab yang bukan milikku, yang tidak seharusnya berada di pundakku. 

Aku mulai bertanya-tanya, gimana ya, rasanya punya hutang sendiri dan untuk diri sendiri?

Tiga puluh satu tahun hidup, sejak tujuh belas tahun menanggung tanggungjawab yang bukan milikku, mengambil peran orang dewasa di sekitarku yang seolah lupa diri mereka sudah dewasa utuh, rasanya belum pernah sekali pun aku punya tabungan. Hari ke hari kuhabiskan dalam mode berjuang. Hidup dari paycheck ke paycheck. Namun, aku belum pernah merasakan menghabiskan gaji utuhku untuk diriku sendiri. 

Di usiaku yang kedua puluh tahun, kulewati dengan pertengkaran besar antara aku dan almarhum Bapak. Keinginan Bapak sederhana; aku ikut pindah ke kampung halamannya. Keinginanku pun sebenarnya jauh lebih sederhana; aku ingin melanjutkan janji Bapak yang mungkin telah ia lupakan, demi menjaga perasaan Mamaku. 

Dulu, almarhum Bapak pernah berjanji, bahwa tidak akan pindah ke kampung halamannya sebelum Nenek dan Kakek dari Mamaku meninggal. Namun pada suatu waktu, Bapak pulang ke rumah dengan ide untuk kembali ke kampung halamannya. Ide ini mengundang luka di hati Mamaku; meninggalkan orangtuanya dan suaminya yang tidak  menepati janji.

Sedangkan almarhum Bapakku saat itu juga punya keinginan; berada dekat orangtuanya yang sudah tua, setelah sekian lama merantau jauh. Bapakku barangkali lupa dengan janjinya, dan tidak sadar telah melukai perasaan istrinya juga mertuanya. 

Ide 'pindah ke kampung halaman' ini mengundang pertengkaran besar di tengah keluargaku. Aku, saat itu, tidak bisa memihak kepada siapa pun. Aku mengerti keinginan Bapakku, juga mengerti luka dan kecewa di hati Mamaku, dan mengerti kesedihan di hati Nenek dan Kakekku. 

Saat itu, aku memilih untuk tetap tinggal di Medan dengan dua alasan; melunasi janji almarhum Bapak yang mungkin sudah terlupa, dan menjaga perasaan Nenek dan Kakek yang sudah turut membesarkanku sejak dulu (sebab sejak aku lahir, Bapak dan Mamak tinggal bersama Kakek dan Nenekku).

Bapak marah besar saat itu. Keputusanku melahirkan ucapan yang menyakitkan untukku, "Kalau nggak mau ikut pindah, Bapak nggak mau nafkahin kau lagi".

Bapak pikir, anaknya ini akan berubah pikiran. Dia tidak tahu betapa aku mewarisi keras kepalanya dengan sempurna. Aku, tanpa ragu mengucap, "Oke. Nggak pa-pa".

Mamaku saat itu mengutuki ucapan Bapakku. Mama merasa, anak perempuan masih menjadi tanggungjawab Bapaknya sampai ia menikah. 

Aku tidak mengambil pusing. Saat itu aku marah kepada Bapak. Aku benci dengan ucapannya. Aku benci ia tidak mencoba mengerti alasanku untuk tetap tinggal di Medan. Aku benci, karena aku bersusah payah menanggung janjinya yang ia lupakan dengan mudah.

Aku yang baru lulus kuliah, mengerjakan segala pekerjaan yang bisa kukerjakan. Mengajar les di sana-sini, mengambil job WO, mengambil job fasilitator. Apa pun kukerjakan untuk bisa makan, dan mencukupi rumah (yang saat itu juga menanggung dua lansia).

Kenapa Nenek dan Kakekku tidak tinggal bersama anak-anaknya yang lain? 

Pertama, Kakekku tidak nyaman tinggal dengan anaknya yang lain. Ketika ia tahu  bahwa aku akan tetap tinggal di Medan, Kakek langsung berucap, "Aku mau tinggal sama cucuku aja. Nggak pa-pa nanti aku tetap narik becak untuk makan. Yang penting tinggal sama cucuku aja".

Kedua, Nenekku tidak mau tinggal di lokasi yang baru sebab sudah nyaman di lingkungan kami saat itu. Dia punya teman, punya langganan yang rutin menjahit baju padanya, dan lainnya. 

Jadilah, saat itu kami tinggal bertiga saja; aku, Nenekku dan Kakekku. Kakekku masih rutin narik becak saat itu, padahal pendengarannya sudah berkurang, dan ia gampang capek. Sudah kubilang, istirahat saja di rumah. Namun Kakek sungkan karena ia merasa tinggal bersama cucunya yang bahkan belum memiliki pekerjaan tetap. Dan Kakek bosan di rumah saja, tidak berjumpa teman-teman, katanya. Jadi kubiarkan saja.

Nenek juga saat itu masih aktif menerima perbaikan baju, juga jahitan baju dari para tetangga. Kubiarkan saja. 

Aku saat itu sering mengerjakan proyek survey yang mengharuskan pergi keluar kota. Sebelum meninggalkan rumah berhari-hari, aku memastikan katering sudah kupesan untuk Nenek dan Kakek. Kutitipi teman dekatku untuk mengecek kondisi Nenek dan Kakekku selama aku di luar kota. Semuanya lancar, pada awalnya. Sampai suatu ketika, Nenek jatuh sakit dan jadi lumpuh setelah keluar dari rumah sakit.

Aku mulai mencari pekerjaan tetap agar bisa tetap tinggal di rumah. Dan Tuhan mudahkan jalanku saat itu; aku menemukan pekerjaan yang dekat dari rumah. Meski sudah bekerja di sebuah perusahaan dengan gaji UMR, aku tetap mengajar les private di dua tempat. Jadi, aku pergi dari rumah pukul setengah delapan pagi, pulang ke rumah bisa jam sepuluh malam. Sesampainya di rumah, aku masak untuk makan besok. Biasanya aku akan selesai tengah malam atau lewat tengah malam. Lalu aku tidur, dan mengulang rutinitas yang sama. 

Rupanya, aku tidak nyaman bekerja di perusahaan itu karena satu dan lain hal. Aku stres berat, hingga akhirnya memilih resain tanpa ada back up pekerjaan selanjutnya. Lebih gilanya lagi, setelah resain, aku mengunjungi Mamaku di Jogja, dengan uang yang pas-pasan.

Setelah resain, aku kembali mengerjakan survey ke pelosok Sumatera Utara, sebelum akhirnya memutuskan mengajar di sekolah agar bisa tetap pulang ke rumah dan memastikan kondisi Nenekku dan Kakekku baik-baik saja. 

Sepulangnya aku dari survey terakhirku (sebelum aku melamar bekerja jadi guru TK), aku mendapati anak Nenekku yang paling kecil sudah pindah ke kontrakan kami yang hanya punya satu kamar, bersama suami dan anak-anaknya. Responku saat itu? Aku kesal. Aku tidak punya ruang privasi, dan entah bagaimana merasa yang kutanggung semakin banyak. Aku benci hidupku saat itu.

Kakekku agak tempramen, dan hubungannya dengan anaknya yang paling kecil ini tidak pernah baik sejak dulu. Kepindahan tanteku ke rumah, menambah intensitas bertengkar yang cukup sering. Aku semakin stres di rumah, dan lebih sering menghabiskan waktuku di luar. Saat itu, kalau bisa aku pulang ke rumah hanya untuk tidur.

Setelah mengajar di salah satu TK Islam, tanteku pindah dari kontrakanku. Gajiku mengajar di TK saat itu hanya empat ratus ribu sampai lima ratus ribu per bulan. Sisanya aku tetap mengajar les private, dan mengambil job serabutan di luar. Hingga suatu hari, ketika aku pulang ke rumah, Nenekku menangis dan berkata, "Pakdemu lagi kesusahan nggak punya uang. Ada uang nggak untuk dipinjami ke Pakdemu".

Aku, sangat benci, dengan anak-anak Nenekku yang lain. Pakdeku ini adalah anak kesayangannya. Ia akan memberikan seluruh hidup dan hartanya untuk Pakdeku. Namun, meminta anak perempuan berumur dua puluh dua tahun yang berjuang hidup dan hanya memiliki gaji tetap lima ratus ribu per bulan, untuk mengutangi orang yang jauh lebih dewasa darinya, benar-benar membuatku membenci orang-orang dewasa di sekitarku. Maksudku, kalau tidak bisa meringankan bebanku, jangan menambahi lukaku. Aku sudah mengurusi orangtuanya, kalau dia tidak bisa menambah kesenangan di hati orangtuanya, lebih baik dia tidak usah datang sampai hari pemakaman. Namun yang terjadi, dia datang ke Mamaknya yang lumpuh, dan mengeluhkan kesulitan hidupnya.

Aku benci Pakdeku.

Aku benci Tanteku.

Aku benci anak pertama dan anak keempat Nenek-Kakekku.

Pada hari itu, aku hanya mengucap, "Nggak ada uang", ke Nenekku. Kubiarkan Nenekku menangisi anaknya lebih lanjut. Karena aku memang tidak punya uang. Aku tidak pernah punya simpanan. Tidak terlilit hutang saja, rasanya harus kusyukuri saat itu.

Nenekku meninggal beberapa tahun kemudian. Pakdeku datang, Tanteku juga datang. Aku seharusnya lebih terima ketika Nenek meninggal, sebab aku tahu Nenek tidak sakit lagi. Namun, saat itu aku merasa, aku terlalu sibuk bekerja demi mencukupi dapur. Aku jarang sekali berbicara dengan Nenek dan Kakekku. Aku menyesal membiarkan dua orang lansia itu merasakan kesepian, padahal aku tinggal di rumah yang sama. Aku ingat sekali bagaimana senangnya mereka ketika aku membawa sate madura sepulang bekerja, atau bagaimana bahagia mereka ketika kubelikan martabak menjelang tengah malam. 

Di masa-masa itu, bisa makan dimsum di Nelayan Jala-Jala Medan adalah hal terlalu mewah untukku. Aku makan di sana karena teman bekerjaku yang mengajak, dan aku harus mengakui betapa enaknya dimsum mereka. Saat itu, aku ingin Nenek dan Kakek makan dimsum itu juga. Beberapa bulan kemudian aku bisa membawa dimsum fancy itu ke rumah untuk Nenek dan Kakek, dan mereka senang sekali. 

Di masa-masa nenekku meninggal, aku bertengkar besar dengan Pakdeku. Dia menemukan buku kecil yang berisi tulisan-tulisan Nenekku. 

"Sampai akhir hidupnya pun, Mamak masih nulis tentang aku," ucapnya. 

Saat itu aku rasanya muak sekali. Aku mengucap, "Ya karena Pakde nyusahin aja! Cuma nambah pikiran Nenek aja! Ngapain sih datang ngeluh2 soal hidup susah??"

Lelaki berusia empat puluh enam tahun itu, mengucapkan kalimat yang sangat jahat kepada gadis dua puluh dua tahun yang sudah mengurusi orangtuanya. "Alah, diam aja kau! Kau aja nggak becus ngurusin Nenek sama Kakekmu! Kau suruh Bapakku nyuci piring kan?! Masa orangtua kau suruh nyuci piring! Gak ada otakmu!"

Aku terdiam. 

Kakek memang selalu mencuci piring, karena aku tidak suka mencuci piring. Namun aku tidak pernah meminta Kakek untuk mencuci piring. 

Kakek kadang memang memasak sayur sendiri, memasak lauk makannya sendiri, sebab terkadang aku tidak sempat memasak ketika pulang sudah tengah malam. 

Saat itu aku menyalahkan diriku sendiri. Aku merasa sudah gagal mengurusi Nenek dan Kakekku. Semua suara di sekitarku rasanya menjauh. Aku hanya bisa mendengar kalimat "nggak becus" itu berulang-ulang. 

Orang-orang lain di sekitarku melerai pertengkaran aku dan Pakdeku. Dia masih berteriak-teriak kepadaku, yang saat itu kubalas, "Pulang! Jangan di sini lagi!"

Kakekku saat itu datang dan memelukku. Kakek berkali-kali bilang, "Cucuku nggak salah. Cucuku udah ngurusin kami. Kamu nggak salah".

Pakdeku lekas mengambil tas perlengkapannya. Sebelum meninggalkan rumah, ia mengajak Kakekku untuk tinggal bersamanya. 

Namun saat itu Kakekku menjawab, "Ayah mau tinggal sama cucu Ayah aja. Selama cucu Ayah masih mau nerima Ayah, Ayah mau ikut ke mana pun dia pergi. Nggak pa-pa kami makan sehari sekali, Ayah mau di sini aja".

Hari itu aku merasa, aku sudah mengacaukan acara kirim doa malam ketiga. Pertengkaran besar itu menyisakan luka yang begitu besar. Saat itu aku membenci diriku sendiri. Aku benci diriku.

Namun sebenarnya, aku benci Pakdeku. 

Aku benci orang-orang dewasa di sekitarku.

Aku benci anak-anak Nenek dan Kakekku.


Post a Comment

0 Comments