Melepaskan Yang Paling Disukai

 

Melepaskan yang paling disukai selalu menjadi hal yang berat untukku, sebab aku jarang menyukai sesuatu dan sulit menemukan sesuatu yang langsung memikat hatiku. Dulu, aku memiliki tas ransel eiger yang menemaniku dari masa kuliah sampai bekerja. Tas itu masih bagus, dan turun ke adikku. Bahkan sampai sekarang, tas itu masih juga bagus. 

Sebelum memberikan ke adikku, aku menangisi dan mengobrol dengan tas itu seperti orang gila. Aku memang orang yang selalu merasa memiliki ikatan dengan barang-barang yang kupakai. Sebab aku selalu percaya, dipilih dan memilih itu harus berjalan bersamaan. Jika hanya salah satu saja, tidak akan bertahan lama. 

Aku, yang terlahir dari keluarga menengah mepet bawah, tidak pernah memiliki tas ber-merk, atau barang branded. Aku bergonta-ganti tas berkali-kali sejak SD hingga SMK. Alasannya sederhana, beli tas yang murah saja. Dan alasan bergantinya juga selalu sama, tasnya robek.

Saat aku akan berkuliah, aku menyampaikan keinginanku untuk memiliki tas bagus. Aku ingin tas eiger. Hari itu, aku pergi dengan mamaku. Dari sekian banyak pilihan, aku langsung jatuh cinta pada tas pilihanku. Namun sayangnya, harganya lebih dari setengah juta. Aku diam saat melihat tag harga. Untuk orang yang biasa dibelikan tas seharga 30 ribu sampai 50 ribu, tiba-tiba membeli tas seharga 525ribu tentu hal yang muluk.

Kukatakan kepada Mamak, tidak usah jadi beli tas. Namun di dalam hati aku sudah bertekad, aku akan membeli tas itu suatu hari nanti. 

Dan saat itu, Mamak menyanggupi membeli tas itu. Aku menangis terharu dan bahagia. Entah bagaimana, aku merasa berteman baik dengan tas itu semasa kuliah hingga bekerja. Menempuh hujan, hingga kemarau panjang. Badanku dulu kecil, tas itu malah tampak kebesaran. Namun kami tetap tampak cocok bersama. Tahun-tahun berlalu, tiba masa aku melepaskan tas itu, sebab adikku mulai kuliah.

Kupikir, perihal tasku yang berkali-kali rusak dulu, bukan hanya soal harga dan kualitas, tetapi tentang ikatan yang tidak pernah ada. Namun semua berbeda ketika aku memiliki tas eiger itu, aku memilihnya, dan dia memilihku. Rasanya, dari semua hal di dunia ini, tas itu yang paling tahu tangis patah hatiku, tawa penuh cintaku, cerita di Palangkaraya, atau hingga lomba di Jogjakarta, tas itu yang paling tahu semuanya, bahkan sebelum aku menceritakan kepada orang lain, atau sebelum aku sempat berkata-kata di blog atau buku harian. 

Dan hampir enam tahun lalu, rasa sukaku jatuh kepada cincin yang melingkar di jari tengahku itu. Aku tidak suka cincin dengan permata berwarna, atau cincin dengan satu permata di tengah sebagaimana umumnya cincin nikah, atau cincin dengan permata di sepanjang bagiannya, atau cincin dengan bentuk yang lain-lain. Entah, aku juga tidak bisa mendefinisikan dengan tepat perhiasan seperti apa yang kusukai. Aku hanya, tiba-tiba, ketika melihatnya, merasa tertarik dan merasa, "oh ya, itu yang kumau! itu sangat aku sekali!". Perasaan seperti itu tidak serta merta muncul begitu saja. Itu bukan perasaan yang perlu pertimbangan panjang. Aku tertarik, aku mencoba, dan langsung merasa 'klik'. Aku menyukai cincin itu, dengan amat. Aku pernah beberapa kali berganti cincin, dan cincin itu adalah yang paling kusukai dari semua yang pernah kumiliki.

Sayangnya, kujadikan ia sebagai mas kawin.
Sialnya, kujadikan ia sebagai mahar pernikahan.

Dan kali ini, aku merasa aku harus melepaskannya.

Kesalahanku adalah... melekatkan benda yang kusukai dengan momen yang--seharusnya--sangat kucintai. Namun aku bisa apa? Jika momen berharga dalam hidupku hanya kucintai tidak sampai tiga bulan lamanya. Aku harus apa? Jika cincin yang sangat kusukai ini, hanya mengingatkanku kepada luka yang bertahun-tahun kutanggungkan sendiri?

Mahar yang lain sudah kujual. Tinggal cincin itu saja yang masih melingkar di jariku. Dan masih membuatku sedih membayangkan harus melepaskannya.

Bagaimana jika ia tetap tinggal di jariku saja?

Tidak. Tidak boleh begitu. Aku sudah terlalu hancur untuk menyimpan bagian kenangan pernikahan yang telah selesai. Tahun ini, aku akan 'merangkai aku' lagi. Aku akan menjadi aku yang baru. Aku akan menjadi sesuatu yang lebih bahagia dan lebih bijak.

Pada akhirnya, akan tetap ada masa di mana aku selalu melepaskan apa yang paling kusukai. Melepaskan Bapak yang telah dijemput Tuhan, melepaskan Kakek dan Nenek yang telah habis umurnya, melepaskan pernikahan yang dulu selalu menjadi hal yang kuharapkan hanya sekali seumur hidup. 

Kita akan menemui masa untuk melepaskan apa yang paling kita cintai. Sebab sebenarnya, kita tidak memiliki apa-apa di hidup ini. Bahkan diri sendiri yang terus kita rangkai setelah dihancurkan keadaan, juga bukan milik kita. Kita adalah milik Tuhan kita. Dan kita akan selalu menemui masa untuk melepaskan hal-halyang paling kita cintai. 

Terima kasih sudah mengisi kekosongan di celah jemariku. 
Aku bukan lagi tidak menyukaimu, tetapi aku harus memulai hidupku yang baru.
Semoga kamu menemukan Tuan yang baru, dan berbahagialah bersamanya nanti. Sebab sudah cukup kamu menyaksikan tangisku selama hampir enam tahun ini. Terima kasih, sudah menemani.

Post a Comment

0 Comments