Merayakan Ulang Tahun Di Meja Konseling
Ketika tanganku merobek kalender, angka dua puluh dua terpampang di sana.
Di sebuah meja persegi panjang berwarna cokelat, aku meletakkan cake dan sebuah lilin.
Dipotong menjadi dua, lalu aku memulai cerita.
Dibagi menjadi empat, dan aku menerima nasihat.
Kepalaku ramai dengan berbagai skenario kematian; memutus nadi, atau terjerat tali?
Perempuan di seberang meja berusaha memadamkan api.
Kegilaanku mencapai batas tertinggi.
Ia menyebut dirinya terapis, dan aku percayai.
"Selamat ulang tahun", katanya dengan hangat.
"Kau hebat sekali bisa sampai ke sini", tambahnya lagi .
Di antara kalimat-kalimat biasa yang sudah bisa kutebak, atau di sela-sela cerita yang kuulang-ulang seperti kaset rusak, aku mengangguk seperti anak kecil penurut.
Ia mengambilkan sepotong cake, dan menyuapkannya ke mulutku.
"Apakah enak?" Ia bertanya saat aku mengunyah.
Aku tidak menjawab apa-apa, selain menangis serupa anak kecil kehilangan permen.
The other poems click here
Di sebelah kursiku, ada cermin tinggi dan beberapa tanaman hias di depannya.
Seorang anak kecil sedang duduk sembari menggosok-gosokkan kakinya yang tergantung.
Mulutnya dipenuhi krim sisa cake yang dimakannya tadi.
Selamat ulang tahun, dari meja konseling.


0 Comments